Mengapa Harus Membenci Kami (Flat Earth-ers) Yang Berbeda Dengan Kalian?

Seringkali kita dengar nada-nada ‘sumbang’ tentang Flat Earth atau Bumi Datar.  Seperti “Ah Dongeng” , “Yang Bener Aja, Masa Datar?” atau “Nih Apaan Lagi Sih?”.

Ya, ternyata menjadi berbeda itu adalah hal yang harus dibayar dengan intimidasi, permusuhan dan ujaran kebencian. Saya mengamati bahwa sessungguhnya hal tersebut adalah hal yang tidak aneh, sekaligus tidak wajar.

Di saat orang ramai menyuarakan Kebhinnekaan, dengan slogan-slogan egalitarian, di saat teriak-teriak bahwa persamaan derajat bagi manusia adalah Hak Asasi, dan perbedaan pendapat dilindungi oleh demokrasi, pada saat yang bersamaan juga tumbuh kembang caci maki, intimidasi bahkan  ujaran kebencian dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya pembela bumi bulat dan pencinta astronomi.

Tidak aneh sih tapi tidak sepatutnya juga, ketika seorang berbeda dan menyanggah teori yang ada selama ini, disikapi dengan sikap kekanak-kanakan bahkan cenderung represif, selalu ingin debat dan tampi sebagai yang paling benar. Katanya pro persamaan dan kebhinnekaan? kok mau menang sendiri? Padahal, apa sih yang kita semua cari kalau bukan kebenaran?

“Kalau memang mereka merasa benar, untuk apa mereka panik?”

Kami, dari kelompok pengamat Bumi Datar, hadir di Indonesia bukan semata-mata untuk cari sensasi. Kami hanya mempertanyakan hal-hal yang sebetulnya simpel. Contoh: “Bila bumi bulat, berapa kilometer dari bumi agar foto bumi terlihat bulat utuh?” , “Bila terjawab sekian kilometer, teknologi apa yang dapat mencapai titik itu sehingga dapat memotret bentuk bumi yang bola tersebut.” Atau yang lebih simpel, “Bila jari-jari bumi 3000an KM, maka berapakah lengkungan bumi seharusnya pada setiap kilometernya.” Sederhana saja.

Yang lebih mengherankan lagi adalah klaim kebenaran dipegang oleh otoritas yang merasa sudah pernah terbang ke angkasa luar, seperti LAPAN dan NASA. Hanya karena mereka memegang kendali atas teknologi. Lalu ketika Flat Earth menyanggah bahwa apa yang mereka lalukan adalah Hoax, malah marah dan tidak berusaha mengungkapkan hal yang sebenarnya.

Yang lebih lucu lagi, setelah marah, mereka menghalang-halangi manusia untuk mempertanyakan hal yang sama. Kalau memang mereka merasa benar, untuk apa mereka panik?

Contoh:

Arogansi Saintis Elite
Arogansi Saintis Elite

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian Indonesia yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya. Empat bidang utama LAPAN yakni penginderaan jauh, teknologi dirgantara, sains antariksa, dan kebijakan dirgantara. LAPAN sendiri baru buat Satellite pada tahun 2000 an.  (Sumber: Wikipedia).

Negara digerakan oleh adanya Demokrasi dimana kekuasaan tertinggi ada pada Rakyat melalu perwakilannya yang ada di DPR. LAPAN lembaga milik pemerintah, pemerintah adalah milik dan pelayan rakyat, kok nunjak?

Ok, katakanlah rakyat bukan hanya kami kelompok minoritas yang percaya dan meneliti Bumi Datar saja, tapi bukan berarti harus dibenci. Wong kita nanya, memberikan bukti baru dan membantah kok, malah dibenci dan dikatakan pembodohan.

Kita hanya berbeda pandangan, mengapa harus membenci kami (Flat Earth-ers) yang berbeda dengan kalian?

Sangat disayangkan sekelas Prof. Thommas Djamaludin hanya menjadi Admin Facebook Group dari LAPAN. Padahal digaji untuk melayani sebaik-baiknya negeri ini, kami bagian dari negeri ini, kenapa kami dikatakan melakukan pembodohan? Apakah untuk membuat kami dimusuhi? Bila iya, maka termasuk kategori Hate Speech (Ujaran Kebencian). Lebih parah dari “dibodoh-bodohi oleh ……” yang sempat ramai beberapa bulan lalu.

Saya tidak bisa menulis di Kolom LAPAN dan sudah enggan menulis di blog mereka. Kebetulan kami ada wahana untuk menulis di blog FE101 dot net. Kalau masih ada yang protes, keterlaluan.

Poin dari tulisan ini sih simpel aja, cuma mau menyayangkan statemen dari seorang ketua lembaga negara yang sekaligus menjadi admin Facebook Group chatting, yang lagi-lagi menurunkan kredibilitasnya sebagai seorang figur.

Secara personal, saya tidak ada masalah kepada Prof. Thomas Djamaludin, tapi secara kelembagaan, saya rakyat dia birokrat, tentu gesekan tak bisa dihindari. Setidaknya gesekan pemikiran dan statemen melalui redaksi tulisan ini.

Salam People Power, The Earth is never Globe!

 

One Comment Add yours

  1. alfadcs says:

    Tidak mudah rasanya menerima suatu hal kebenaran yang bertolak belakang. ada beberapa konsekuensi yang harus dihadapi, mungkin LAPAN belum siap untuk hal ini. “mungkin”

Leave a Reply