Jangan Menangis, Indonesia

Dear temansss…

Mungkin ada yang inget lagu “Jangan Menangis, Indonesia” yang saya cuplik di akhir episode 12B.

Lagu yang diciptakan oleh alm. Harry Roesli itu memang sangat dahsyat. Hatiku tersayat-sayat mendengar jeritan suara sang legenda musik Indonesia itu. Darahku mendidih… Sejujurnya, saya sering mentikkan air mata tiap kali denger lagu itu. Tiap kali… meski sudah sering sekali…

Bukan cuma lagunya saja yang bikin saya sangat sensi tiap denger lagu itu. Tapi, ada kisah dibalik lagu itu yang memang tak terlupakan, bagi saya. Kisah yang tak terlupakan dengan sang legenda yang bengal, liar, brilian, antikemapanan, kocak dan luar biasa menyenangkan itu: alm. Harry Roesli.


(Indonesia kehilanganmu, alm. Harry Roesli…)

Bertemu Para Legenda

Waktu SD, saya memang penggemar Harry Roesli. Saya masih pakai celana pendek, dia sudah jadi legenda musik Indonesia. Adalah karunia dari Tuhan Yang Mahakuasa, saya bisa berkomunikasi — bahkan bercengkrama — dengan hampir semua legenda yang saya idolai sejak kecil.

Bukan cuma legenda Indonesia saja, tapi juga legenda musik asing. Misalnya, waktu SD saya mengidolai musisi jazz Chick Corea. Waktu SMP saya mengidolai musisi pop David Foster. Begitu kuliah, saya bisa ngobrol dengan Chick Corea. Begitu kerja, saya bisa bercengkrama dengan David Foster. Itu semua adalah karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Demikian halnya dengan Harry Roesli. Ketika saya sudah punya kantor sendiri, dan sedang mimpin sebuah proyek kenegaraan di bidang seni, tiba-tiba saya inget lagu “Jangan Menangis, Indonesia”. Ketika itu belum ada Youtube. Internet belum seperti sekarang. Tak mudah untuk cari lagu-lagu lama. Kasetnya (tak ada CDnya) sudah tak ada lagi di pasaran.

Saya ingat album lagu itu diproduseri oleh Musica Studios. Alhamdulillah saya kenal pimpinan perusahaannya, koh Aciu. Saya telpon dia, minta tolong direkamkan copy lagu Jangan Menangis, Indonesia. Alhamdulillah koh Aciu yang baik mengabulkan dan mengirim copy lagu tersebut ke kantor saya (padahal saya gak ada urusannya sama lagu itu, hihihi).

Serasa Nemu “Tambang Emas”

Naah, setelah itu saya telpon alm. Harry Roesli. “Har, gue ada tambang emas niih. Loe maen dong ke kantor”. Enaknya gaul sama seniman, biar jauh lebih tua juga bisa panggil nama aja, hehehe…

Maka datanglah Harry Roesli ke kantor saya waktu itu, di lantai 23 gedung kawasan “segitiga emas” Kuningan, Jakarta. Dia cekakakan ngetawain ruangan kantor saya. “Hahahaha udah kayak mafioso aja kantor loe”, katanya. Memang ruangan kantor waktu itu saya desain ngikutin film favorit, “Other People’s Money”.


(ruangan kantor dalam film “Other People’s Money” yang dibintangi Danny De Vito)

Saya sengaja undang Harry ke kantor, karena saya dengar dia sudah tak punya lagi rekaman kaset Jangan Menangis, Indonesia itu. “Har, gue punya tambang emas nih. Loe dengerin ya,” kata saya sambil puter kaset lagu itu. Kebetulan sound system di ruangan kantor menunjang buat dengerin musik bareng seniman yang kupingnya kritis dengan keindahan frekuensi suara.

Silakan anda klik link lagu dengan suara emas Harry Roesli ini:


(kalau sekarang sih begitu mudahnya cari lagu-lagu lama di Youtube. Dulu susah banget)

Harry terbengong-bengong denger lagu dan suaranya sendiri. “Gile loe, dapet dari mana itu rekaman??” tanya Harry. Dia gak kepikir bahwa saya bisa minta sama produsernya yang masih pegang master rekaman. Hahahaha…

Setelah bercengkrama ngobrol ngalor ngidul, pas mau pulang saya berikan copy kaset kepada penciptanya. “Nih Har, bawa aja. Courtesy dari produser loe, koh Aciu yang baik.”

Setelah itu, saya sering denger Harry bawakan kembali lagu itu di pentas, bahkan merekam ulang lagu itu. Tapi, buat saya, tak bisa menyamai rekaman aslinya ketika Harry Roesli masih muda itu. Karya rekaman tahun 70an itu memang masterpiece. Mahakarya dari sang legenda yang tak bisa dia ulangi lagi. Direkam ulang tetap bagus, tapi tak pernah sebagus itu lagi. Sebuah masterpiece memang merupakan “berkah” dan “karunia”. One of a kind…

Ending Episode 12B

Itu adalah kisah yang sudah lamaaaaa sekali. Ketika membuat ending episode 12B, saya sudah lupa dengan lagu itu.

Waktu editing, saya sebenarnya berencana masukkan lagu “Indonesia Tanah Airku”. Saya search “Indonesia” di folder musik di PC. Eeeh yang keluar malah “Jangan Menangis, Indonesia”. Hahahaha… rejeki buat saya. Padahal tadinya gak terpikir lagu itu.

Rasanya seperti ditunjukkan jalan oleh Tuhan, agar saya pakai lagu itu untuk ending episode 12B.

Daaan… ketika mulai editing dengan lagu ituuuu… Saya nangis sesenggukan. Terharu… sedih… tapi juga bangga dan bahagia…

“Mendengar lagu ‘Jangan Menangis, Indonesia’ ketika editing bagian akhir Episode 12B, saya tak kuasa menahan tangis. Saya merasakan keagungan, kemuliaan, kekuatan, dan kebahagiaan yang tiada tara. Rasanya seperti dipeluk erat-erat oleh samudera kasih yang tak bertepi.”

Seandainya saya bisa bertemu kembali dengan alm. Harry Roesli, saya akan tunjukkan cuplikan akhir episode 12B itu sambil berkata, “Har… this one is for you…

Saya yakin ia akan tersenyum bangga…

Selamat jalan, alm. Harry Roesli tersayang. Indonesia Menangis, karena kehilangan sentuhan keindahanmu.

I miss you, broda…

Cheers,
– BossDarling

Leave a Reply